“Idza shodaqo-l-azmi wadhoha sabili......”
Mungkin
tidak semua orang berfikir untuk mengambil pendidikan lanjut atau yang biasa disebut “kuliah” dengan program
beasiswa, tapi masih banyak dari kita yang mengharapkan dapat sekolah dengan hasil
usaha kita memburu beasiswa dikampus atau negeri impian, bahkan untuk membantu
ekonomi keluarga agar tidak memberatkannya dengan biaya kuliah yang mahalnya
selangit untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Dan
setiap kemauan harus disertai niat yang tulus, usaha yang kuat ,doa
sebanyak-banyaknya serta tawakkal kepada Allah dengan hasil yang akan kita
peroleh..seperti apa yang dikatakan oleh para bapak pimpinan gontor bahwa dalam
mencapai sesuatu kita harus bekerja keras,berdoa keras,berfikir keras,serta
berusaha keras.
Idza
shodaqo-l-azmi wadhoha sabili......
Teng..teng..teng.. bel
pelajaran ketiga pun berbunyi, icha pun memasukan pulpennya kedalam saku dan
menutup bukunya ‘usth.icha antum tualim ayyu hishoh?”(bhs.gp;usth icha
kamu mengajar jam ke berapa?) “oh iya
usth, ini mau masuk jam ketiga kelas saya di sebelah”.
Sepulangnya dari
mengajar ia bertemu dengan Aqila teman seperjuangan dalam memburu beasiswa luar
negeri, selain Rika yang sudah siap dengan berkasnya.
“Aqila nanti kamu mau
ikut aku nggak?”
”emangnya kamu mau ke mana
icha? Jangan bilang kalau kamu mau ke warnet nyari info?”
‘hehe..he... kok kamu
tau sih.. kamu baca list agendaku ya?”selidik icha dengan dahi di kerutkan.
“Nggak ,bercanda kok
aku mau ke wartel bukan ke warnet,mau minta tolong orang rumah buat ngirim
berkas-berkas yang di butuhkan untuk aplikasi beasiswa, ya makin cepat lebih
baik kan?”tambah icha menjelaskan.
“kamu belum bawa
berkas-berkasnya ya ? aku udah ada semua kok, tinggal buat paspor minggu
depan..kamu jadi ikut kan? Rika udah siap tuh..buat jadi pemandu pembuatan
paspornya, dia kan udah punya ,sekalian dia mau cek kesehatan di rumah sakit katanya” jelas Aqila.
“ok!”jawab icha singkat
sambil melambaikan tangannya kepada aqila.
Sampai di sana
percakapan mereka, icha pun bergegas menuju wartel untuk menghubungi rumah dan
meminta bantuan agar berkas-berkas yang di butuhkannya segera di kirim.
Setelah menghubungi
rumah ia pun bergegas mangambil wudhu untuk menunaikan sholat dzuhur, di dalam
do’anya ia pun tak lupa untuk meminta kepada-Nya agar di mudahkan dalam segala
urusan dan memohon ampunan serta keselamatan dunia akhirat.
Seminggu kemudian
berkas-berkas yang di mintanya sampai,tapi sayang tidak sampai di situ ia dapat
melanjutkan langkah kedua untuk membuat paspor (karena permohonan beasiswa ia
ajukan kepada pemerintahan luar negeri)salah satu berkas yang di butuhkan
tertinggal aslinya dan hanya ada copy-nya.
Tapi setiap usaha pasti
di awali oleh kegagalan dahulu, karena kegagalan dalam usaha adalah
keberhasilan yang tertunda yang nantinya akan datang pada waktu yang sudah di
kehendaki oleh Allah SWT dan semua itu indah pada waktunya.
Icha lalu berfikir
keras bagaimana caranya ia maju ke langkah berikutnya, sedangkan deadline
yang ia tentukan untuk ke kantor imigrasi bersama Aqila dan rika tinggal dua
hari untuk mengurus paspor baru dan ia tidak mungkin untuk membatalkannya.
“assalamualaikum rika,
aqila bagaimana ini berkasku kurang satu, aku takut kalau nantinya aku tidak dapat
maju untuk permohonan berkas di kantor imigrasi dalam pembuatan
paspor...bagaimana kalau nanti aku ikut tapi untuk mempelajari prosedurnya saja?”lontar
icha ketika baru datang, ia pun langsung menduduki tempat yang kosong di
sebelah rika.
Mereka pun berdiskusi
sejenak untuk mencari jalan keluar atas keadaan yang icha alami.
“emangnya apa yang
kurang dari persyaratan? Sepertinya kalau ada copy-nya kita bisa mencobanya dulu,
ya kalau sudah begini kita harus “jarrib wa lahidz takun arifan!” , Iya
icha tetap ikut tapi di bawa semua ya berkas yang ada biar sekalian kalau bisa
“ sambil menyelam minum air” gitu gmana?” saran rika pada kedua temannya.
“ok!” jawab icha
singkat.
Hari-H pun tiba mereka
bertiga mempersiapkan semuanya baik-baik,
Rika yang memang sudah
mempunyai paspor sebelumnya hanya memeriksa berkas yang ada untuk memastikan
apa saja yang harus ia lengkapi ternyata ada tiga hal yang belum ia miliki
setelah berkonsultasi dengan seniornya yaitu ijazah , surat keterangan baik
dari kepolisian dan surat keterangan sehat dokter.
Begitupun dengan Aqila
ia memeriksa semua berkas yang ia punya untuk permohonan paspor baru dan
alhamdulilah, semuanya sudah lengkap. jadi ia pun yang bertugas mempersiapkan
bekal sarapan mereka bertiga karena di perkirakan mereka akan pergi pagi-pagi
sekali agar tidak kesiangan nantinya.
Berbeda dengan rika dan
aqila, di kamarnya icha pun memikirkan apa ia harus membawa semua berkas yang
ia punya? tapi terbesit sedikit rasa
takut dihatinya, untungnya ia percaya kalau ada niat pasti ada jalan ,untuk
kali ini ia bermodalkan nekat terlebih dahulu.
“kalau sudah niat,usaha
serta do’a yang terakhir tinggal tawakkal kepada Allah karna hasilnya ada di
tangan Allah!”ungkap icha dalam hati sambil menundukan kepalanya.
seperti busur lepas dari panahnya icha pun
bergegas menyusul Aqila lalu rika.
Sambil menunggu bis
yang akan membawa mereka ke kantor imigrasi mereka pun berbincang-bincang
mengenai rute yang akan mereka jelajahi hari ini.
Aqila pun angkat bicara
dan memimpin percakapan yang terjadi di halte bus sederhana ini, belum sempat
ia berbicara ternyata mereka kedatangan tamu, ema pun datang untuk memberikan
dukungannya kepada mereka dan menjelaskan perihal rute dan kendaraan yang harus
mereka tempuh karena sebenarnya ema ingin ikut untuk membantu tetapi karena ada
hal yang tidak bisa ia tinggal, ia pun hanya bisa untuk mengantar sampai
keberangkatan mereka bertiga di halte bus.
Rute pun tercipta:
IMIGRASI-BANK (pembayaran paspor (kalau permohonan di terima))-RSUD-KAPOLSEK-PULANG.
“ya ini baru rencana
nantinya kita serahkan kepada Allah saja, yang penting sudah usaha ,do’a dulu
yuk! Aku pimpin ya.. semoga kita sukses”sahut rika.
Singkat cerita mereka
sampai di kantor Imigrasi dengan selamat, walaupun tadinya mereka salah memilih
bus yang ternyata harganya tiga kali lipat lebih mahal daripada bus yang
biasanya dan waktu yang ditempuh lebih lama dari seharusnya.
Mereka pun memandang
kantor imigrasi dengan berbagai perasaan yang melanda, di depan mereka berdiri
dengan megahnya kantor imigrasi yang seakan-akan berkata pada mereka “di tangan
saya langkah kedua kalian akan di tentukan untuk menuju dunia internasional,
jika kalian tidak lulus disini, kalian
tidak akan bisa untuk keluar negri! Apakah berkas kalian sudah lengkap? Apakah
kalian sudah siap? Tunjukan kesungguhan kalian sekarang!”.
“hiiii... aku kok
tiba-tiba merinding ya? Huh..gmana nih baru ngeliat gedungnya aja aku udah
merinding gini!” lontar icha, yang membuat kedua temannya memandangnya dengan mengerutkan
dahi mereka.
“hehe.. santai kawan
..iya Cuma bercanda kok , tapi beneran deh aku agak gmana gitu..”ucap icha
sambil mengangkat kedua tangannya meminta perdamaian dari pandangan gemas
teman-temannya.
“udah ayo!.. cepet
keburu antri nih makin siang makin rame
loh, inget nih lagi jamannya umroh pasti antri interviewnya!” ajak rika sambil
menarik kedua tangan temannya menyebrangi jalan.
“bismillah!” ucap icha
dalam hati, dia paling pesimis hari ini karna ia tidak yakin dengan berkas
seadanya yang ia bawa.
“kalau udah jalannya
mudah-mudahan kali ini sukses!”ucap aqila dalam hati karena sebenarnya ia
pernah mencoba mengajukan permohonan paspor di daerahnya tapi belum berhasil
karena suatu kendala.
“mudah-mudahan mereka
berdua berhasil ya Allah!” ucap rika dalam hati sembari memejamkan matanya.
Dengan langkah yang
pasti mereka melewati pintu masuk kantor imigrasi yang terbuka secara otomatis,
dari sini petualangan mereka baru saja dimulai.
Allah menyertai mereka dalam setiap langkah
menuju kebaikan....
Beberapa prosedur telah
mereka lalui dengan mudah, walaupun beberapa kali icha membuat teman-temannya
gemas karena ia tidak mau memasuki ruang foto dan interview.
Pada akhirnya mereka di
permudah oleh Allah, ada keajaiban yang icha rasakan datang pada hari itu,
petugas tidak menanyakan perihal surat rekomendasi dan ia baru ingat kalau
dirinya belum meminta surat rekomendasi pembuatan paspor pada kantor pengajaran
di sekolah tempatnya mengajar untuk di permudah dalam pembuatan paspor, yang
kedua petugas imigrasi tidak menanyakan berkas-berkas aslinya sama sekali,
sehingga petugas tidak tau kalau ia hanya mengumpulkan copynya saja.
Ia sampai berfikir
mungkin ini salah satu keuntungan yang ia dapat dari sekolahnya yang biasanya
dijuluki “sekolah bertaraf internasional tapi, bertarif lokal”.
tujuan selanjutnya
adalah sebuah bank konvesional terdekat yang memang tempat resmi untuk
pembayaran paspor.
“huh...sebenarnya kita
udah jalan berapa kilo sih?” tanya Rita sambil mengusap peluh yang mengalir
deras di dahinya
“ngga tau nih kayaknya
udah berkilo-kilo deh ...”sahut icha sambil mengambil botol airnya lalu
meminumnya sambil duduk di tepi trotoar.
“eh ... icha, rika itu
bukan banknya?....iya itu..itu.. itu yang warnanya orange kan?!”tunjuk aqila
dengan riang seperti anak kecil yang menemukan barang yang ia cari-cari.
Mereka pun melanjutkan
perjalanan yang sudah mereka lalui hampir setengah jam lamanya.
Dan benar itu adalah
bank yang di maksud! Alhamdulillah!
“gimana kalau nanti
kita tanya orang sana, berapa kilo dari kantor imigrasi sampai bank ini? Pegel
nih kaki rasanya kayak mau copot! Oh ya
Icha, Tadi sebenarnya waktu kamu nanya ke bapak-bapak depan warung itu bapaknya
bilang apa sih sampai kamu bilang banknya lurus terus ikut jalan ini?” cerocos
rika yang memang sedari tadi tidak bersuara dan baru bersuara setelah sampai
tujuan.
“ya gitu tadi bapaknya
Cuma bilang ikut aja jalan ini lurus terus. katanya sih ngga jauh...eh ternyata
jauh juga ya?” ratap icha di hadapan
temannya sambil menunjukan kedua jarinya tanda meminta perdamaian .
Mereka pun
menyelesaikan administrasi yang harus mereka selesaikan, sejurus kemudian
mereka sudah keluar dari bank, lalu mereka menghampiri pak satpam yang sedari
tadi setia berdiri tegap di depan bank untuk menjaga keamanan para nasabah
dengan sepenuh hati.
“maaf bapak, mau nanya
nih kira-kira dari kantor imigrasi ke sini berapa kilo ya?”lontar rika pada pak
satpam yang sedang berjaga.
“wah itu mah kira-kira
tiga sampai empat kilo dek, emangnya ada apa?”tanya pak satpam.
“haha..haha.....oh iya
pak maaf ,makasih-makasih pak, atas infonya, Kita pamit dulu ya pak..!”tawa
aqila disertai pamit, lalu mengapit kedua temannya yang masih
terbengong-bengong mendengar jawaban pak satpam.
Merekapun melanjutkan
perjalanan ke destinasi berikutnya, kali ini rika tambah mengunci mulutnya dan
membiarkan dirinya tenggelam ke dalam do’a-do’a yang ia panjatkan kepada Allah
swt, karna kali ini hajat yang paling besar adalah punya rika yaitu pergi
kerumah sakit untuk mendapatkan surat keterangan sehat dari dokter.
Namun sesudah mereka
sampai di sana ternyata dokter yang berwewenang untuk memberi surat keterangan
sehat sedang tidak berpraktek, maka dengan berat hati mereka pun meninggalkan
tujuan kali ini.
Di tengah perjalanan
menuju kantor polisi setempat.
“sebenarnya kita bisa nggak sih minta ke kantor polisi daerah ini?
Domisili kita sekarang kan bukan di sini?”tanya rika kepada kedua temannya.
“oh iya..aku juga baru
inget kalau mau minta surat keterangan baik, katanya harus di kepolisian sesuai
domisili kita”sahut icha.
“jadi gimana nih, kita
pulang apa gimana? Trus gimana rika belum dapet apa-apa loh dari perjalanan
ini?”tanya aqila meminta pertimbangan kedua temannya.
“ya udah ga papa masih
ada waktu lain, lusa juga bisa kok,pokoknya kalau ada usaha dan Allah
meridhoinya pasti ada jalan kok!” tanggap rika dengan santai.
Lalu rika pun memberi
kode kepada kondektur bus karna mereka akan melanjutkan perjalanan pulang.
Hari demi hari pun
berlalu semua urusan berkas-berkas yang mereka perlukan pun sudah mereka
lengkapi,musim pendaftaran beasiswa pun dibuka.
Beberapa pasang mata
belum berkedip sejak lima menit yang lalu, mereka mengamati formulir yang
sedang mereka isi dengan cermat, masa depan mereka pun bagi mereka di
pertaruhkan di hadapan mereka, salah menulis motivation letter (semacam
surat yang memuat motivasi, tujuan serta kapasitas kita, biasanya setiap
program beasiswa mewajibkan ini,bila tujuan ke luar negri biasanya berbahasa
inggris) bisa-bisa para penguji tidak meluluskan berkas mereka, kerena dari
motivation letter akan terlihat bagaimana kapasitas kita serta tujuan kita,
pastinya pihak pemberi beasiswa tidak mau pemohon yang lulus nantinya tidak
memberikan hasil apa-apa.
Dari sini pertarungan
di mulai karna pemohon beasiswa tidaklah satu dua orang saja tapi bisa ratusan
jumlahnya...barang siapa tekadnya paling kuat, usahanya paling keras dan
do’anya paling banyak dialah pemenangnya! Tapi kesabaran juga di butuhkan
disini ada beberapa hal yang memakan waktu banyak serta kesabaran extra dalam
menjalaninya.
Tiga bulan lalu.....
“ashima kamu ngapain
sih? setiap ngenet kayaknya banyak banget tabs yang di buka?”selidik
icha sambil mencondongkan kepalanya kepada ashima sembari mengintip layar
komputer ashima.
“ini lagi nyari
kabar-kabar tentang beasiswa, emangnya kamu mau kemana icha sesudah dari sini?
Katanya mau S1 diluar negri masa belum ada gerakan sih?”tanya ashima kepada
icha yang masih memerhatikan layar komputer milik ashima.
“ iya bener kamu ashima
aku belum kepikiran sampai situ masih terombang-ambing nih ikut pilihan orang
tua atau ngambil islamic culture ya?”tanya icha pada temannya yang satu
ini.
“tapi aku belum nentuin
negara mana aja yang mau aku pilih buat nanem benih!”tambah icha.
“benih? maksudnya agar
siapa tau salah satu negara yang kamu tanem itu bisa di ambil hasilnya?tanya
ashima,icha hanya menjawabnya dengan senyum dan anggukan.
Pukul 16.00 waktu
indonesia bagian barat.....di depan kampus UNIDA....
“miza..... kamu ada
kuliah ya? Gmana? kamu udah ada kabar tentang turki belum? aku udah ada channel
yang bisa ngasih info akurat!”sapa icha dengan deretan kalimatnya.
“oh iya icha.. udah kok
di sana ada konsulatku yang yang bisa di hubungi namanya kak mina.. beberapa
kali aku udah coba tanya tentang info-info beasiswa turki, aku di kasih linknya
suruh baca sendiri, kata kak mina kalau mau nanya-nanya, tanya tentang hal yang
bener-bener ngga paham, katanya kalau kita keseringan nanya-nanya, dan
sebenarnya sudah jelas di info programnya, bisa-bisa kita di kacangin! Malah g
bakal di ladenin”jelas miza panjang lebar dengan nada yang mewanti-wanti....
Memang sebagai pemburu
beasiswa mereka di tuntut untuk menjadi lebih dewasa dan mandiri, agar nantinya
semua yang mereka dapatkan adalah hasil jerih payah mereka sendiri dan tanpa
campur tangan orang lain tetapi dengan campur tangan yang maha kuasa.
Untuk beasiswa di luar
negri kita harus mempersiapkan hal yang paling penting yaitu bahasa karena hal
ini sangat di butuhkan untuk menentukan bagaimana nantinya kehidupan kita
disana, dan hal lainnya yang berhubungan dengan berkas-berkas yang dibutuhkan
dari paspor sampai motivation letter serta letter of recommendation yang dapat
menambah nilai jual kita dihadapan pihak pemberi beasiswa.
Satu tahun
kemudian........
Istanbul, 09.00 waktu
setempat di dalam ruang kelas di istanbul university, Rika memandang keluar
jendela dan membuang pikirannya jauh ke tanah airnya, ia mengingat
perjuangannya bersama teman-temannya setahun lalu....
Di belahan bumi
lainnya....
Islamabad,10.00 waktu
setempat di halaman IIUI islamabad, icha sedang membuka laptopnya mengakses aplikasi
skype untuk berhubungan dengan orang tuanya di indonesia, tak terasa ada air
hangat menetes di pipinya di tengah musim semi kali ini, ia tak berhenti
mengucap syukur dalam nostalgia...
Asia tenggara di sebuah
negara maju...
Bandar sri
begawan,11.00 waktu setempat, aqila berdiri mengacungkan tangannya setelah
tutor membuka forum pertanyaan.ia pun diam sejenak sambil menundukan kepalanya
mengucap rasa syukur kepada Allah atas keberhasilannya dalam menuntut ilmu di
negri tetangganya ini.....
Ashima serta ema
memilih untuk melanjutkan studinya di indonesia...
Sedang miza sudah duduk
disebelah rika dalam kelas yang sama..
Idza shodaqo-l-azmi wa
doha sabili........
By
shofa
Ushuluddin
2/perbandingan agama