Senin, 04 Januari 2016

SCHOLARSHIP HUNTER (cerpen)

“Idza shodaqo-l-azmi wadhoha sabili......”

       Mungkin tidak semua orang berfikir untuk mengambil pendidikan lanjut atau  yang biasa disebut “kuliah” dengan program beasiswa, tapi masih banyak dari kita yang mengharapkan dapat sekolah dengan hasil usaha kita memburu beasiswa dikampus atau negeri impian, bahkan untuk membantu ekonomi keluarga agar tidak memberatkannya dengan biaya kuliah yang mahalnya selangit untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
       Dan setiap kemauan harus disertai niat yang tulus, usaha yang kuat ,doa sebanyak-banyaknya serta tawakkal kepada Allah dengan hasil yang akan kita peroleh..seperti apa yang dikatakan oleh para bapak pimpinan gontor bahwa dalam mencapai sesuatu kita harus bekerja keras,berdoa keras,berfikir keras,serta berusaha keras.
       Idza shodaqo-l-azmi wadhoha sabili......

       Teng..teng..teng.. bel pelajaran ketiga pun berbunyi, icha pun memasukan pulpennya kedalam saku dan menutup bukunya ‘usth.icha antum tualim ayyu hishoh?”(bhs.gp;usth icha kamu  mengajar jam ke berapa?) “oh iya usth, ini mau masuk jam ketiga kelas saya di sebelah”.
       Sepulangnya dari mengajar ia bertemu dengan Aqila teman seperjuangan dalam memburu beasiswa luar negeri, selain Rika yang sudah siap dengan berkasnya.
       “Aqila nanti kamu mau ikut aku nggak?”
       ”emangnya kamu mau ke mana icha? Jangan bilang kalau kamu mau ke warnet nyari info?”
       ‘hehe..he... kok kamu tau sih.. kamu baca list agendaku ya?”selidik icha dengan dahi di kerutkan.
       “Nggak ,bercanda kok aku mau ke wartel bukan ke warnet,mau minta tolong orang rumah buat ngirim berkas-berkas yang di butuhkan untuk aplikasi beasiswa, ya makin cepat lebih baik kan?”tambah icha menjelaskan.
       “kamu belum bawa berkas-berkasnya ya ? aku udah ada semua kok, tinggal buat paspor minggu depan..kamu jadi ikut kan? Rika udah siap tuh..buat jadi pemandu pembuatan paspornya, dia kan udah punya ,sekalian dia mau cek kesehatan di rumah sakit  katanya” jelas Aqila.
       “ok!”jawab icha singkat sambil melambaikan tangannya kepada aqila.
       Sampai di sana percakapan mereka, icha pun bergegas menuju wartel untuk menghubungi rumah dan meminta bantuan agar berkas-berkas yang di butuhkannya segera di kirim.
       Setelah menghubungi rumah ia pun bergegas mangambil wudhu untuk menunaikan sholat dzuhur, di dalam do’anya ia pun tak lupa untuk meminta kepada-Nya agar di mudahkan dalam segala urusan dan memohon ampunan serta keselamatan dunia akhirat.
       Seminggu kemudian berkas-berkas yang di mintanya sampai,tapi sayang tidak sampai di situ ia dapat melanjutkan langkah kedua untuk membuat paspor (karena permohonan beasiswa ia ajukan kepada pemerintahan luar negeri)salah satu berkas yang di butuhkan tertinggal aslinya dan hanya ada copy-nya.
       Tapi setiap usaha pasti di awali oleh kegagalan dahulu, karena kegagalan dalam usaha adalah keberhasilan yang tertunda yang nantinya akan datang pada waktu yang sudah di kehendaki oleh Allah SWT dan semua itu indah pada waktunya.
       Icha lalu berfikir keras bagaimana caranya ia maju ke langkah berikutnya, sedangkan deadline yang ia tentukan untuk ke kantor imigrasi bersama Aqila dan rika tinggal dua hari untuk mengurus paspor baru dan ia tidak mungkin untuk membatalkannya.
       “assalamualaikum rika, aqila bagaimana ini berkasku kurang satu, aku takut kalau nantinya aku tidak dapat maju untuk permohonan berkas di kantor imigrasi dalam pembuatan paspor...bagaimana kalau nanti aku ikut tapi untuk mempelajari prosedurnya saja?”lontar icha ketika baru datang, ia pun langsung menduduki tempat yang kosong di sebelah rika.
       Mereka pun berdiskusi sejenak untuk mencari jalan keluar atas keadaan yang icha alami.
       “emangnya apa yang kurang dari persyaratan? Sepertinya kalau ada copy-nya kita bisa mencobanya dulu, ya kalau sudah begini kita harus “jarrib wa lahidz takun arifan!” , Iya icha tetap ikut tapi di bawa semua ya berkas yang ada biar sekalian kalau bisa “ sambil menyelam minum air” gitu gmana?” saran rika pada kedua temannya.
       “ok!” jawab icha singkat.
       Hari-H pun tiba mereka bertiga mempersiapkan semuanya baik-baik,
       Rika yang memang sudah mempunyai paspor sebelumnya hanya memeriksa berkas yang ada untuk memastikan apa saja yang harus ia lengkapi ternyata ada tiga hal yang belum ia miliki setelah berkonsultasi dengan seniornya yaitu ijazah , surat keterangan baik dari kepolisian dan surat keterangan sehat dokter.
       Begitupun dengan Aqila ia memeriksa semua berkas yang ia punya untuk permohonan paspor baru dan alhamdulilah, semuanya sudah lengkap. jadi ia pun yang bertugas mempersiapkan bekal sarapan mereka bertiga karena di perkirakan mereka akan pergi pagi-pagi sekali agar tidak kesiangan nantinya.
       Berbeda dengan rika dan aqila, di kamarnya icha pun memikirkan apa ia harus membawa semua berkas yang ia punya?  tapi terbesit sedikit rasa takut dihatinya, untungnya ia percaya kalau ada niat pasti ada jalan ,untuk kali ini ia bermodalkan nekat terlebih dahulu.
       “kalau sudah niat,usaha serta do’a yang terakhir tinggal tawakkal kepada Allah karna hasilnya ada di tangan Allah!”ungkap icha dalam hati sambil menundukan kepalanya.
        seperti busur lepas dari panahnya icha pun bergegas menyusul Aqila lalu rika.
       Sambil menunggu bis yang akan membawa mereka ke kantor imigrasi mereka pun berbincang-bincang mengenai rute yang akan mereka jelajahi hari ini.
       Aqila pun angkat bicara dan memimpin percakapan yang terjadi di halte bus sederhana ini, belum sempat ia berbicara ternyata mereka kedatangan tamu, ema pun datang untuk memberikan dukungannya kepada mereka dan menjelaskan perihal rute dan kendaraan yang harus mereka tempuh karena sebenarnya ema ingin ikut untuk membantu tetapi karena ada hal yang tidak bisa ia tinggal, ia pun hanya bisa untuk mengantar sampai keberangkatan mereka bertiga di halte bus.
       Rute pun tercipta: IMIGRASI-BANK (pembayaran paspor (kalau permohonan di terima))-RSUD-KAPOLSEK-PULANG.
       “ya ini baru rencana nantinya kita serahkan kepada Allah saja, yang penting sudah usaha ,do’a dulu yuk! Aku pimpin ya.. semoga kita sukses”sahut rika.
       Singkat cerita mereka sampai di kantor Imigrasi dengan selamat, walaupun tadinya mereka salah memilih bus yang ternyata harganya tiga kali lipat lebih mahal daripada bus yang biasanya dan waktu yang ditempuh lebih lama dari seharusnya.
       Mereka pun memandang kantor imigrasi dengan berbagai perasaan yang melanda, di depan mereka berdiri dengan megahnya kantor imigrasi yang seakan-akan berkata pada mereka “di tangan saya langkah kedua kalian akan di tentukan untuk menuju dunia internasional, jika kalian tidak lulus  disini, kalian tidak akan bisa untuk keluar negri! Apakah berkas kalian sudah lengkap? Apakah kalian sudah siap? Tunjukan kesungguhan kalian sekarang!”.
       “hiiii... aku kok tiba-tiba merinding ya? Huh..gmana nih baru ngeliat gedungnya aja aku udah merinding gini!” lontar icha, yang membuat kedua temannya memandangnya dengan mengerutkan dahi mereka.
       “hehe.. santai kawan ..iya Cuma bercanda kok , tapi beneran deh aku agak gmana gitu..”ucap icha sambil mengangkat kedua tangannya meminta perdamaian dari pandangan gemas teman-temannya.
       “udah ayo!.. cepet keburu  antri nih makin siang makin rame loh, inget nih lagi jamannya umroh pasti antri interviewnya!” ajak rika sambil menarik kedua tangan temannya menyebrangi jalan.
       “bismillah!” ucap icha dalam hati, dia paling pesimis hari ini karna ia tidak yakin dengan berkas seadanya yang ia bawa.
       “kalau udah jalannya mudah-mudahan kali ini sukses!”ucap aqila dalam hati karena sebenarnya ia pernah mencoba mengajukan permohonan paspor di daerahnya tapi belum berhasil karena suatu kendala.
       “mudah-mudahan mereka berdua berhasil ya Allah!” ucap rika dalam hati sembari memejamkan matanya.
       Dengan langkah yang pasti mereka melewati pintu masuk kantor imigrasi yang terbuka secara otomatis, dari sini petualangan mereka baru saja dimulai.
        Allah menyertai mereka dalam setiap langkah menuju kebaikan....
       Beberapa prosedur telah mereka lalui dengan mudah, walaupun beberapa kali icha membuat teman-temannya gemas karena ia tidak mau memasuki ruang foto dan interview.
       Pada akhirnya mereka di permudah oleh Allah, ada keajaiban yang icha rasakan datang pada hari itu, petugas tidak menanyakan perihal surat rekomendasi dan ia baru ingat kalau dirinya belum meminta surat rekomendasi pembuatan paspor pada kantor pengajaran di sekolah tempatnya mengajar untuk di permudah dalam pembuatan paspor, yang kedua petugas imigrasi tidak menanyakan berkas-berkas aslinya sama sekali, sehingga petugas tidak tau kalau ia hanya mengumpulkan copynya saja.
       Ia sampai berfikir mungkin ini salah satu keuntungan yang ia dapat dari sekolahnya yang biasanya dijuluki “sekolah bertaraf internasional tapi, bertarif lokal”.
       tujuan selanjutnya adalah sebuah bank konvesional terdekat yang memang tempat resmi untuk pembayaran paspor.
       “huh...sebenarnya kita udah jalan berapa kilo sih?” tanya Rita sambil mengusap peluh yang mengalir deras di dahinya
       “ngga tau nih kayaknya udah berkilo-kilo deh ...”sahut icha sambil mengambil botol airnya lalu meminumnya sambil duduk di tepi trotoar.
       “eh ... icha, rika itu bukan banknya?....iya itu..itu.. itu yang warnanya orange kan?!”tunjuk aqila dengan riang seperti anak kecil yang menemukan barang yang ia cari-cari.
       Mereka pun melanjutkan perjalanan yang sudah mereka lalui hampir setengah jam lamanya.
       Dan benar itu adalah bank yang di maksud! Alhamdulillah!
       “gimana kalau nanti kita tanya orang sana, berapa kilo dari kantor imigrasi sampai bank ini? Pegel nih kaki rasanya kayak mau copot!  Oh ya Icha, Tadi sebenarnya waktu kamu nanya ke bapak-bapak depan warung itu bapaknya bilang apa sih sampai kamu bilang banknya lurus terus ikut jalan ini?” cerocos rika yang memang sedari tadi tidak bersuara dan baru bersuara setelah sampai tujuan.
       “ya gitu tadi bapaknya Cuma bilang ikut aja jalan ini lurus terus. katanya sih ngga jauh...eh ternyata jauh juga ya?” ratap  icha di hadapan temannya sambil menunjukan kedua jarinya tanda meminta perdamaian .
       Mereka pun menyelesaikan administrasi yang harus mereka selesaikan, sejurus kemudian mereka sudah keluar dari bank, lalu mereka menghampiri pak satpam yang sedari tadi setia berdiri tegap di depan bank untuk menjaga keamanan para nasabah dengan sepenuh hati.
       “maaf bapak, mau nanya nih kira-kira dari kantor imigrasi ke sini berapa kilo ya?”lontar rika pada pak satpam yang sedang berjaga.
       “wah itu mah kira-kira tiga sampai empat kilo dek, emangnya ada apa?”tanya pak satpam.
       “haha..haha.....oh iya pak maaf ,makasih-makasih pak, atas infonya, Kita pamit dulu ya pak..!”tawa aqila disertai pamit, lalu mengapit kedua temannya yang masih terbengong-bengong mendengar jawaban pak satpam.
       Merekapun melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, kali ini rika tambah mengunci mulutnya dan membiarkan dirinya tenggelam ke dalam do’a-do’a yang ia panjatkan kepada Allah swt, karna kali ini hajat yang paling besar adalah punya rika yaitu pergi kerumah sakit untuk mendapatkan surat keterangan sehat dari dokter.
       Namun sesudah mereka sampai di sana ternyata dokter yang berwewenang untuk memberi surat keterangan sehat sedang tidak berpraktek, maka dengan berat hati mereka pun meninggalkan tujuan kali ini.
       Di tengah perjalanan menuju kantor polisi setempat.
“sebenarnya kita bisa nggak sih minta ke kantor polisi daerah ini? Domisili kita sekarang kan bukan di sini?”tanya rika kepada kedua temannya.
       “oh iya..aku juga baru inget kalau mau minta surat keterangan baik, katanya harus di kepolisian sesuai domisili kita”sahut icha.
       “jadi gimana nih, kita pulang apa gimana? Trus gimana rika belum dapet apa-apa loh dari perjalanan ini?”tanya aqila meminta pertimbangan kedua temannya.
       “ya udah ga papa masih ada waktu lain, lusa juga bisa kok,pokoknya kalau ada usaha dan Allah meridhoinya pasti ada jalan kok!” tanggap rika dengan santai.           
       Lalu rika pun memberi kode kepada kondektur bus karna mereka akan melanjutkan perjalanan pulang.
       Hari demi hari pun berlalu semua urusan berkas-berkas yang mereka perlukan pun sudah mereka lengkapi,musim pendaftaran beasiswa pun dibuka.
       Beberapa pasang mata belum berkedip sejak lima menit yang lalu, mereka mengamati formulir yang sedang mereka isi dengan cermat, masa depan mereka pun bagi mereka di pertaruhkan di hadapan mereka, salah menulis motivation letter (semacam surat yang memuat motivasi, tujuan serta kapasitas kita, biasanya setiap program beasiswa mewajibkan ini,bila tujuan ke luar negri biasanya berbahasa inggris) bisa-bisa para penguji tidak meluluskan berkas mereka, kerena dari motivation letter akan terlihat bagaimana kapasitas kita serta tujuan kita, pastinya pihak pemberi beasiswa tidak mau pemohon yang lulus nantinya tidak memberikan hasil apa-apa.
       Dari sini pertarungan di mulai karna pemohon beasiswa tidaklah satu dua orang saja tapi bisa ratusan jumlahnya...barang siapa tekadnya paling kuat, usahanya paling keras dan do’anya paling banyak dialah pemenangnya! Tapi kesabaran juga di butuhkan disini ada beberapa hal yang memakan waktu banyak serta kesabaran extra dalam menjalaninya.
       Tiga bulan lalu.....
       “ashima kamu ngapain sih? setiap ngenet kayaknya banyak banget tabs yang di buka?”selidik icha sambil mencondongkan kepalanya kepada ashima sembari mengintip layar komputer ashima.
       “ini lagi nyari kabar-kabar tentang beasiswa, emangnya kamu mau kemana icha sesudah dari sini? Katanya mau S1 diluar negri masa belum ada gerakan sih?”tanya ashima kepada icha yang masih memerhatikan layar komputer milik ashima.
       “ iya bener kamu ashima aku belum kepikiran sampai situ masih terombang-ambing nih ikut pilihan orang tua atau ngambil islamic culture ya?”tanya icha pada temannya yang satu ini.
       “tapi aku belum nentuin negara mana aja yang mau aku pilih buat nanem benih!”tambah icha.
       “benih? maksudnya agar siapa tau salah satu negara yang kamu tanem itu bisa di ambil hasilnya?tanya ashima,icha hanya menjawabnya dengan senyum dan anggukan.
       Pukul 16.00 waktu indonesia bagian barat.....di depan kampus UNIDA....
       “miza..... kamu ada kuliah ya? Gmana? kamu udah ada kabar tentang turki belum? aku udah ada channel yang bisa ngasih info akurat!”sapa icha dengan deretan kalimatnya.
       “oh iya icha.. udah kok di sana ada konsulatku yang yang bisa di hubungi namanya kak mina.. beberapa kali aku udah coba tanya tentang info-info beasiswa turki, aku di kasih linknya suruh baca sendiri, kata kak mina kalau mau nanya-nanya, tanya tentang hal yang bener-bener ngga paham, katanya kalau kita keseringan nanya-nanya, dan sebenarnya sudah jelas di info programnya, bisa-bisa kita di kacangin! Malah g bakal di ladenin”jelas miza panjang lebar dengan nada yang mewanti-wanti....
       Memang sebagai pemburu beasiswa mereka di tuntut untuk menjadi lebih dewasa dan mandiri, agar nantinya semua yang mereka dapatkan adalah hasil jerih payah mereka sendiri dan tanpa campur tangan orang lain tetapi dengan campur tangan yang maha kuasa.
       Untuk beasiswa di luar negri kita harus mempersiapkan hal yang paling penting yaitu bahasa karena hal ini sangat di butuhkan untuk menentukan bagaimana nantinya kehidupan kita disana, dan hal lainnya yang berhubungan dengan berkas-berkas yang dibutuhkan dari paspor sampai motivation letter serta letter of recommendation yang dapat menambah nilai jual kita dihadapan pihak pemberi beasiswa.
       Satu tahun kemudian........
       Istanbul, 09.00 waktu setempat di dalam ruang kelas di istanbul university, Rika memandang keluar jendela dan membuang pikirannya jauh ke tanah airnya, ia mengingat perjuangannya bersama teman-temannya setahun lalu....
       Di belahan bumi lainnya....
       Islamabad,10.00 waktu setempat di halaman IIUI islamabad, icha sedang membuka laptopnya mengakses aplikasi skype untuk berhubungan dengan orang tuanya di indonesia, tak terasa ada air hangat menetes di pipinya di tengah musim semi kali ini, ia tak berhenti mengucap syukur dalam nostalgia...
       Asia tenggara di sebuah negara maju...
       Bandar sri begawan,11.00 waktu setempat, aqila berdiri mengacungkan tangannya setelah tutor membuka forum pertanyaan.ia pun diam sejenak sambil menundukan kepalanya mengucap rasa syukur kepada Allah atas keberhasilannya dalam menuntut ilmu di negri tetangganya ini.....
       Ashima serta ema memilih untuk melanjutkan studinya di indonesia...
       Sedang miza sudah duduk disebelah rika dalam kelas yang sama..
       Idza shodaqo-l-azmi wa doha sabili........




By shofa
Ushuluddin 2/perbandingan agama

1 komentar:

  1. Hemm,,,sangat mengenaskan tpi sgt mengesankan karna memang usaha tak pernah menghianati hasil,,
    Dan ketika konsisten tetap teratas keadaanlah yang akan berlutut....

    BalasHapus